look it please :)
Ooops .... Salah
Writen by : Ade Ilmi Nafiah
Pagi itu paman hadi dan tante mengajak dita sekeluarga pergi ke Benteng Panacasila . Ya biasa lah jalan-jalan namanya juga malming aliyas malam minggu gitu sekalian lihat pesta kembamg api . Dita dan keluarga udah siap semuanya tinggal nungguin si Miko kakak Dita yang lemotnya abis-abisan “Miko…… cepet dong sayang ntar telat di marahin paman ama tante loh” bentak mama Dita . “iya nih kakak ngapain aja sih di dalam” Dita yang ketus karena sebal menunggu kakaknya.
“bentaran dikit napa ! lagi nanggung nihh ……..” jawab Miko . beberapa menit kemudian tante dan paman uda datang biar bisa berangkat rame-rame. “Dita , udah siap ?” Tanya tante pada dita yang wajahnya masih ketus. “udah tante tinggal nungguin si mik mik itu ttuh” . “emang Miko kemana?”, “lagi nanggung tuh”. Mendengar percakapan itu Miko langsung syewot pada adik mungilnya yang suka mengejek dia “ehh, awas aja kamu dek kalo’ kamu telat dikit kakak tinggal kamu” . “tinggalin aja ntar kalo’ ditinggal ya kasih tau mama aja” anacam Dita “ihh, manja “ . “sudah-sudah kalaian ini uda besar masih aja bertengkar kaya’ anak kecil aja” kata mama sambil memisah mereka berdua agar tidak bertengkar lagi.
Suasana kembali seperti semula tapi Dita dan Miko masih cuek-cuekan aja . “so, ini jadi berangkat apa nggak ? pesta kembang apinya keburu selesai loh “ kata tante yang pengen cepet-cepet liat pesta kembang api . “ya jadi dong” sahut Dita . “yaudah kalo jadi jangan berantem melulu dong” tambah paman menasehati mereka berdua “iya paman” jawab dita dan miko serentak. “cepat naik mobil ntar keburu selesai pesta kembang apinya”
Mereka semua berangkat menggunakan dua mobil. Mobil tamte Dita dan mobil mama Dita. Mereka semua menikmati perjalanan menuju benteng pancasila. Tak jauh dari benteng pancasila sudah terlihat mobil dan sepeda motor yang berjajar rapi di pinggir jalan. Bukan hanya anak muda yang menonton pesta kembang api itu tapi, kakek nenek dan anak-anak pun ada disana untuk memeriahkan HUT mojokerto yang ke-35. “wah rame juga ya pesta kembang apinya” kata papa mengagumi meriahnya pesta kembang api.
“iya pa, rame banget seru lagi” sahut mama. Mereka semua sibuk mengagumi pesta kembang api yang ada. Tapi, sangat diherankan tiba-tiba paman menghilang begitu saja entah kemana. “Miko, paman kamu tadii kemana ? tadi kan sama kamu ?” Tanya tante khawatir “emmmm,, eng,, eng,, enggak tau tante tadi sih disini !” jawab Miko takut dimarahi oleh tantenya itu. “aduh ,,, dimana pamanmu ini tante jadi bingung mau cari kemana” . tante yang awalnya bingung sekarang semua anggota keluarga ikut bingung karena mencari-cari pamanya.
Setelah cukup lama mencari dita dan papanya melihat paman Hadi duduk di sebelah tong sampah berwarna hijau sambil merintih kesakitan. “paman… paman pa.. paman” sambil menunjuk kearah pamanya. Semua orang berkumpul mengerumuni paman Hadi yang terpuruk lemas dan kesakitan di dekat tong sampah hijau. “ayah kenapa ? sakit apa yah? Bagian mana yang sakit? Mama bawa ke dokter ya?” pertanyaan yang meluncur deras dari istri paman Hadi terus menumpahkan segudang rasa kekhawatiran pada suaminya. “aku taka pa perutku hanya sakit dan terus melilit” jawabnya dengan kesakitan. “Ayo cepat bawa ke dokter” ajak papa Dita pada semuanya agar beliau cepat ditangani di rumah sakit.
Jam dinding rumah sakit terus berputar seiring pemeriksaan dokter. Belum sempat memberitahukan keadaan yang dialami oleh paman Hadi ada seorang pasien yang tertabrak truk dan terluka parah. Dokter itu harus segera menangani pasien tersebut jika tidak nyawa pasien itu akan melayang. Akhirnya dokter memutuskan agar suster yang memberi tahu keadaan pak Hadi pada keluarganya. “suster tolong berikan surat diatas meja saya yang beramplop coklat pada keluarga pak Hadi, saya mau menangani pasien sebelah” perintah dokter pada salah satu suter yang ada “baik dok”.
Suster itu bergegas menuju meja pak dokter dan lekas mengambil amplop itu. Tapi, suster itu sendiri bingung mau mengasih amplop yang mana karena amplop coklatnya ada dua. “aduh, ini yang mana yang dikasih ke keluaragga pak Hadi. Jadi bingung sendiri” suter itu memegang kedua amplop tersebut menggunakan tangan kanan dan kirinya “cap cip cup ajah deh siapa tau bener , kanan kiri kanan kiri kanan kiri kanan kiri, yang kiri aja deh” tak disangka ternyata amplop kiri yang akan diberikan pada keluarga pak Hadi adalah amplop seorang pasien yang menderita kanker paru-paru dan hidupnya tidak akan bertahan lama.
“keluarga pak Hadi” panggil suster “saya sus” jawab istrinya. “ini bu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, mohon maaf pak dokter tidak bsa bicara langsung pada ibu” jelas suster itu “iya sus nggak papa kok “ sambil menerima amplop dari suster itu. Suster itu langsung pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada istri pak Hadi. Dengan segera tante dita membuka amplop yang diberikan. Alahasil tante langsung menjerit dan menangis keluarga Dita langsung bertanya-tanya memang ada apa dengan paman Hadi “ada apa tan, paman Hadi nggak papa khan?” Tanya miko penasaran. Belum sempat menjawab pertanyaan Miko tante langsung pingsan karena tak kuasa mendengar kenaytaan pahit itu.
Kertas itu pun jatuh dan diambilnya oleh papa dita dan memberitahukan pada seluruh anggota keluarga jika paman Hadi terkena kanker paru-paru. “astaga, paman kalian menderita kanker paru-paru dan sudah stadium 4. Hidupnya tidak akan lama lagi” jelas papa Dita. Semua anggota keluarga terdiam dan tidak menyangka bahwa sudah separah itu penyakit yang dialami oleh paman hadi. Keanehan pun semakin menjadi-jadi kata suster yang mendapat amanah dari dokter paman hadi terkena kanker paru tapi, dokternya sendiri menyuruh paman hadi pulang dan dirawat ajalan saja. “ibu, pak. Hadi boleh pulang hari ini dan ini resep obatnya” memberikan copy resep pada istri pak Hadi. Belum sempat bertanya apa yang sebenarnya terjadi dokter keburu pergi meninggalkan istri pak Hadi.
Di rumah paman Hadi terheran-heran karena sikap istrinya yang tiba-tiba sangat baik. Istrinya sangat ramah dan selalu menuruti permintaan paman Hadi. Paman dilarang kerja agar istirahat di rumah saja. Pagi buta waktu itu tante pergi ke pasar untuk berbelanja. Tante pun Mendengar ucapan para ibu-ibu yang lagi nggosip “kalau sudah kanker stadium 4 hidupnya tinggal 3 hari lagi loh ibu-ibu” mendengar itu tante langsung shock berat. Menjelang hari ketiga tenyata dokter kehilangan surat pasien yang menderita kanker paru-paru. Beliau pun bertanya pada salah satu suster yang telah memeberikan surat pada pak hadi “suster, mana amplop yang berwarna coklat?” Tanya dokter pada suster itu “sudah saya kasih pada keluarga pak hadi dok!” . “laterus mana ya surat kankernya yang ada kok malah suratnya pak hadi?” tenya dokter dengan wajah kebingungan “oops, :o salah, brarti yang saya kasihkan bukan surat pak hadi dong dok?” “ya jelas bukan” Jelas dokter kembali
“memangnya pak Hadi menderita sakita apa dok?” Tanya suter. “pak hadi kena magh. Mungkin sebelum jalan-jalan kemarin pak Hadi belum sempat makan dari pagi. Makanya lambungnya perih” jawab santai dokter itu “waduh dok!” kaget sang suster “kanapa?” “saya salah memberikan amplop dok” “haduh kamu ini bagaimana sih?” dokter agak sedikit marah karena kelakuan suster itu “ya sidah besok kita temui keluarga pak hadi menjelaskan apa yang terjadi dan meminta maaf karena keteledoran kamu” “baik dok” merunduk karena malu akan kesalahanya.
Sementara itu istri pak Hadi menjerit menangis tak mau kehilangan pak hadi yang menderita kanker paru-paru itu. “ayah…. Jangan tinggalin mama sendirian yah !” jerit istri pak hadi. Semua keluarga berkumpul dirumah pak hadi menyaksikan istri pak hadi yang histeris tersebut. “maksud mama apaan sih ayah gga ngerti” Tanya paman hadi penasaran dengan perilaku istrinya. “ maafin mama pa maaf mama gak bias bicara yang sejujurnya” kata tante sambil menangis tersedu-sedu.
Tampak dari luar seorang suster kemarin turun dari mobil mewah yang ditumpanginya. Memakai seragam suster seperti biasanya dan ditemani oleh dokter. Langsung saja suster dan dokter tersebut ditanyai oleh keluarga dita kenapa datang kemari . “permisi pak bu” ucap dokter itu hendak masuk “loh.. dokter ada apa kok tumben kemari? Ada perlu apa dok?” papa dita yang nyerocos bertanya pada dokter itu karena terheran-heran mana ada seorang dokter tiba-tiba datang ke rumah pasiennya secara pribadi. “saya mau menyampaikan sesuatu pada keluarga pak hadi” jawab dokter itu “memang ada apa lagi dok sama paman hadi?” Tanya dita yang penasaran jua. “begini dek, saya mau menjelaskan bahwa amplop yang kemarin lusa saya kasih ternyata salah. Pak hadi hanya terkena penyakit magh bukan kanker paru-paru stadium 4” jelas suster itu. “jadi pak hadi tidak apa-apa sus?” Tanya mama dita.
“tidak apa-apa bu saya yang salah jadi saya dan dokter mewakili rumah sakit untuk meminta ma’af pada pasien” jelas suster kembali. Tante yang tiba-tiba keluar dan mendengar percakapan kami dan dokter langsung girang dan memeluk suaminya karena beliau tidak jadi meninggalkan tante. Dokter dan suster pun meminta ma’af atas kesalahan yang terjadi. “bu saya mau minta maaf atas kecerobohan saya” suster itu meminta maaf pada tante “iya tidak apa-apa sus tapi, jangan diulangi lagi yah ! jangan bikin kami shock lagi” ucap tante pada suster itu.
Keadaan kembali seperti semula paman hadi tetap sehat dan tidak jadi meninggal karena kanker paru-paru stadium 4. Kedua keluarga itu kembali akur dan sering tour ke luar kota. Paman hadi pun sangat menjaga penyakit maghnya agar tidak kambuh lagi. Dan agar keluarga tidak khwatir akan kesehatan paman hadi.
TAMAT
Sekian dari kami apabila ada kesamaan tokoh, karakter tokoh, tempat dan lain-lain mohon dimaklumi karena cerita ini hanyalah fiktif belaka.
Salam
Nafi’ah, Ade Ilmi. 2012. Oops salah. Mojokerto: PT. murat marit sidorejo
Wkwkwkwkwk J Sekian

I like iT
BalasHapusoo., :o
BalasHapusyou must Like It okekekeh :)