cerpen saya lagi

Kakiku Masa Depanku
Oleh : Ade Ilmi Nafiah

Tak jauh dari rumahku tampak seorang pemuda yang tampan. Pindahan dari kota. Dia tinggal dirumah nenek Sambi tetanggaku entah mengapa aku sangat penasaran pada pemuda tampan itu. “dia bukan pemuda biasa rupanya” pikirku. Tiba-tiba mama memanggilku agar membantunya di dapur “Santi….. Santi.. sini deh bantuin mama di dapur” suara mama yang keras itu membuat telingaku agak bergetar karena mengagetkanku di kamar dekat jendela. “iya maa”
            Aku langsung pergi ke dapur sambil memotong bawang aku sedikit bertanya pada mama. “ma pemuda yang tinggal di rumah nenek Sambi ?” Tanya ku penasaran “oh itu… itu anaknya nenek sambi yang datang dari kota” jelas mama padaku “laterus kenapa dia pindah?” tanyaku lagi “ya nggak tau San. Emang mama siapanya nenek sambi jadi, mama ya nggak tau ajah” ucapan mama yang agak kesal padaku karena aku bertanya terus. “oh gitu ya ma” aku mencoba mengakhiri pertanyaanku pada mama karena takut mama marah.
            Hari ini hari minggu pagi waktunya aku jogging keliling kompleks. Lagi-lagi aku melihat pemuda itu sedang mengelap kaki kanannya dia sungguh membuatku penasaran. Seraya aku melihat pemuda itu aku dipanggil oleh nenek Sambi agar sarapan bersama mereka. Ini kesempatan emasku untuk mengetahui semua tentang anak nenek Sambi “Santi sini nak, ayo makan bersama-sama” ajak nenek Sambi awalnya aku ingin menolak karena aku lagi jogging. Tapi mau gimana lagi aku sangat penasaran dengan pemuda itu. “iya nek” jawabku dari kejauhan di tepi jalan.
            Akupun masuk dalam rumah mungil itu dan duduk di sebelah nenek Sambi. Aku sangat menikmati makanan yang ada. Setelah makan aku mencoba membantu nenek mencuci piring yang kotor. “biar aku bantu nek” . “gak usah Santi”nenek sepertinya tak mau merepotkanku. “sudah deh nek, nenek kan sudah tua. Jadi, biar Santi yang bantu nenek” pintaku agar aku bias bertanya lebih banyak pada nenek tentang cucunya.”terimakasih san, kamu memang anak yang baik hati” pujian nenek sangat membuatku tersipu.
            Sambil mencuci piring aku mencoba bertanya pada nenek “nek” panggilku untuk memulai pembicaraan. “iya apa San?” jawab nenek. “pemuda yang ada di rumah nenek iu siapa sih? Santi baru lihat dia baru-baru ini” . “oh… itu anak nenek yang sulung San” . “kemana saja anak nenek itu kok baru pulang kampong baru-baru ini” sepertinya nenek terpancing omonganku dan membuatnya bercerita banyak padaku. “dia dulunya tinggal di kota tapi, setelah kecelakaan maut yang hampir melayangkan nyawanya. Dia kembali ke kampong di rumah nenek”  cerita nenek ku potong karena mulutku tak berhenti meluncurkan kata-kata penasaran. “memang kecelakaan apa nek?” tanyaku penasaran. “satu bulan yang lalu anak nenek yang bernama Andi tertabrak truk. Arah truk yang berlawanan dengan sepeda yang dipacu oleh andi membuat kaki kanan andi harus diamputasi. Sempat 2 minggu dia berada di rumah sakit. Tapi pihak rumah sakit tak bisa menolong Andi kecuali kaki kananya harus diamputasi” dari cerita nenek aku mulai lebih penasaran dan sedikit ngeri karena kaki bang Andi yang diamputasi.
            “tapi nek, kelihatanya setiap hari bang Andi berjalan dengan 2 kaki yang sempurna” nenek menjawab pertanyaanku dengan senang hati. “itu karena Andi memakai kaki palsu agar tetap bisa berjalan layaknya orang sehat.” Akupun mengerti kenapa bang andi selalu mengelap kaki kananya. Ternyata itu adalah kaki buatan. Setelah bertanya banyak pada nenek aku berpamitan karena aku takut dimarahi mama. “nek aku pulang dulu ya!” pamitku. “iya San hati-hati ya. Terimakasih banyak atas bentuanmu” . “iya nek sama-sama.
            Hari mulai sore  tampak bang Andi sedang duduk di teras depan rumah. Aku pun menghampirinya dan ingin mendengarakan cerita dari bang Andi sendiri. “bang Andi…” teriakku dari kejauhan menyapa bang Andi yang sedang duduk di teras rumah. “ehh, Santi tumben maen kesini ada perlu apa?” Tanya bang Andi padaku “emmmm, nggak ada apa-apa sih bang cuman pengen Tanya aja ama bang Andi” . “emang mau Tanya apa?” .”kata nenek Sambi abang abis kecelakaan ya?” tanyaku. “iya, memangnya kenapa?” balas Tanya bang Andi padaku. “kaki abang diamputasi, apa abang gak sedih melihat itu semua?” .”awalnya nggak menyangka San abang kok bisa begini. Tapi apa boleh buat tuhan sudah menggariskan bahwa abang hanya punya satu kaki”.
            “tapi tak apa lah bang mending punya satu daripada enggak sama sekali. Betul nggak?” hiburku agar bang Andi tak lagi sedih. “betul banget. Tapi karena abang hanya punya satu kaki abang harus kehilangan cita-cita abang” wajah abang Andi mulai ditekuk seraya ingin menangis menyesali kecelakaan yang pernah menimpanya. “memang bang Andi pengen jadi apa?” . “waktu abang tabrakan dengan truk itu abang mau ke universitas pulu jaya dan mau mendaftar sebagi angkatan laut. Tapi tiba-tiba truk itu menghantam abang sampai abang kehilangan kaki kiri abang” jelas bang Andi “kalau jadi angkatan laut harus sempurana ya? Padahal bang Andi itu perfect lo bang tinggi, oke ganteng, pasti postur tubuh, sempurna” pujiku pada bang Andi. “ahh, kamu ini jangan memuji terus ntar kepala bang Andi makin besar lo San. Tapi meski perfect kalau hanya punya satu kaki mana bisa jadi angkatan laut?”
            Benar juga yang dikatakan oleh bang Andi jadi angkatan laut memang harus perfetct tanpa ada cacat sedikitpun. “aduh jadi iba nih denger ceritanya bang Andi” aku sedikit meneteskan air mata karena cerita itu. “sudah jangan nangis. Menangis bukan untuk menyelesaikan masalah. Mangkanya kamu sekolah yang pandai agar bisa meraih cita-cita kamu. Dan satu lagi jangan teledor kaya bang Andi. Biar gak celaka seperti ini. Oke”
            “siap boss” jawabku semangat. Aku janji akan mengingat semua nasehat bang Andi padaku. Bahwa cita-cita harus dikejar semaksimal mungkin dan tidak membiarkan cita-cita melayang karena suatu keteledoran diri sendiri. Aku punya satu pelajaran baru tentang mengejar cita-cita.
TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MY WISH

look it please :)